Hihihi, lanjutdah, indeed If we talk about our heart, that's never stop, thanks for the six words, I thinks it's nice words 👍😊 follow my blog yaa wkwkwk
Guys… akhirnya sampai pada part terakhir kegiatan Rainy’s Day Fest di Banjarbaru. Jadi malam penutupan RDF ditandai dengan launching buku antologi Puisi “ The First Drop of Rain ”. Acara peluncuran buku ini juga dimeriahkan dengan kegiatan “ Poetry in Action ”. Kami ditawarkan kesediaannya untuk tampil membacakan puisi. Tentu saja bagi penyair, membaca sebuah puisi adalah suatu hal yang menyenangkan, karena merupakan salah satu cara “olah jiwa”. Mendalami makna puisi, menyajikannya, dan dinikmati oleh orang lain. Saya dan kawan saya juga turut serta berpartisipasi. Saya sendiri membawakan puisi karya saya, yang saya buat dengan musikalisasi yang sangat sederhana. Kebetulan ada sebuah instrument alat musik tersedia disana, yup sebuah gitar. Kegiatan ini masih berpusat di Mingguraya. Pic : Poetry in Action Pic: Poetry In Action Ada satu hal yang cukup menarik di Mingguraya. Siapapun yang datang untuk pertama kalinya harus mengikuti semacam agenda wajib, yakni membaca puisi....
Dalam hidup, tentu setiap kita memiliki keinginan akan suatu hal yang sifatnya “ sangat diinginkan ”. Sebut saja hal itu adalah “ mimpi ”. Harapan dan impian dari seorang anak manusia, tentu sangat lumrah adanya. Karena memang sifat fitrah manusia adalah “ memiliki nafsu ”. Nafsu menginginkan sesuatu hal bisa disebut sebagai sebuah keinginan atau impian. Mimpi apa yang pernah ada dalam benak kalian? Apa yang kalian lakukan terhadap mimpi kalian? Apakah mimpi kalian sudah menjadi nyata? Tulisan ini lahir karena saya sejenak lalu menyaksikan sebuah video tentang seorang anak petani di Semarang yang berhasil menjadi lulusan terbaik di Akademi Kepolisian 2019. Namanya Muhammad Idris, dan beliau juga seorang Hafidz Qur’an. Masya Allah. MIMPI ATAU CITA-CITA Waktu kita masih kecil, mungkin sering sekali ditanya, “ apa sih cita-cita kamu ?”, atau “ Kalau sudah besar, maunya jadi apa ?” dan beragam pertanyaan lain. Mungkin pada saat itu, banyak dari kita akan menjawab ingin m...
“Mba Firaa, ayo bangun.!! Jam berapa lagi mau bangun coba.” Nyanyian Ayah setiap pagi seperti pertunjukan konser di lapangan. Aku hanya bisa menutup kedua telinga dengan guling dan membenamkan diriku di dalam selimut tebal. Tak berapa lama kemudian. Byuuuurrr. Kena telak!! Basah semua. Bisa dibayangkan sendiri, siraman air segayung mengguyur tubuh. Menggigil. “Ayaah, kenapa Fira disiram lagi. Sprei kemarin saja belum kering karena ayah siram.” Wajahku jelek sekali pagi itu. Cemberut dan kalian mau tahu, ayah hanya tertawa dan senyum sumringah tampak jelas diwajahnya. “Hehehe, makanya kalau ayah panggil dijawab, jangan justru menutup telingamu dengan bantal dan sembunyi dibalik selimut. Jadi basah kan, hihihi.” Ayah seolah menjadi pemenang. Seperti seseorang yang berhasil memenangkan permainan games milik Dodi. Aku masih mendengar jelas tawa yang keluar dari mulutnya. Terbahak-bahak. Tak hanya tawa ayah, dibelakangnya menyusul tawa bunda dan Bang Dodi. Aaah, aku seperti jad...
Dont disappear before my feeling end
BalasHapusHalah pengen lanjutin 😂
Hihihi, lanjutdah, indeed If we talk about our heart, that's never stop, thanks for the six words, I thinks it's nice words 👍😊 follow my blog yaa wkwkwk
BalasHapus