Langsung ke konten utama

Postingan

#157# TULISAN KU DI SOLO POS

Sungguh benar dalam sebuah buku agama yang pernah saya baca, bahwa kita sebagai seorang hamba dianjurkan untuk berada dalam satu jamaah. Hikmahnya adalah satu sama lain akan saling menguatkan, menyemangati, memberi sokongan. Jika dalam bahasa sekarang, jamaah bisa juga dianalogikan seperti sebuah komunitas.
Berada dalam komunitas dengan banyak "warga" di dalamnya akan membawa dampak terhadap pribadi seseorang. Seperti yang saya rasakan. Berada dalam komunitas ODOP tembus Media atau lebih dikenal dengan OTM yang tujuan utamanya komunitas ini adalah agar setiap anggotanya "berani untuk menghasilkan karya, dan memunculkannya ke media".
Hal itu terbukti benar. Dengan "pemaksaan" yang bernilai positif terhadap setiap anggotanya, maka diri saya pun terpanggil untuk berani membuat karya dan menampilkan ke media. Alhamdulillah, satu karya saya di apresiasi dengan diterbitkan dalam surat kabar daerah di pulau Jawa. Semoga semakin termotivasi untuk berkarya kembali…
Postingan terbaru

#156# Oleh-oleh dari "GREAT MUSLIMAH TRAINING"

#155# SENAR GITAR YANG SUDAH KEMBALI

Di zaman sekarang, segala hal terasa lebih mudah ya. Sesuatu yang mungkin gak akan pernah terfikir bisa kita kerjakan, bakal buat kita kaget karena ternyata hal tersebut bisa kita selesaikan. 
Sedikit berbagi cerita tentang sesuatu. Saya suka bermain dengan satu alat musik dan cukup lama "akrab" dengannya. Namun saya bukanlah orang yang profesional memainkannya seperti teman-teman saya yang lain, hanya sekedarnya. Alat musik itu adalah sebuah gitar, yang sudah bersama saya kurang lebih 12 tahun belakangan. Dahulu saya beli saat saya masih di rantau saat tugas di ujung utara pulau Kalimantan tepatnya di kabupaten Nunukan. 
Kenapa saya bisa sampai membeli gitar ini, karena saya kesepian, hahaha. Berada di tempat baru, gak ada banyak orang yang dikenal, akhirnya mencari kesibukan dan kesenangan sendiri. 
Singkat cerita, gitar ini dah menjadi bagian dari hidup saya. Namun satu hal yang tak pernah bisa saya lakukan di zaman itu adalah ketika senar gitar putus atau stem nya sudah…

#154# ALAH BISA KARENA BIASA

Hai guys, gak kerasa dah hari ke 6 di kamar rumah sakit. Sampai saat ini masih belum diizinkan pulang sama dokternya. Karena memang masih perlu observasi lanjutan mengenai kesehatan saya. Gak apa lah ya, biar kelak keluar dari RS, kesehatan nya lebih paripurna lagi. 
Sebenarnya yang sedikit membuat BT adalah keterbatasan dalam melakukan sesuatu. Dah dua hari ini, infusan saya dilakukan di tangan sebelah kanan. Karena terbiasa beraktifitas dengan tangan kanan, ketika terbatasi seperti ini, pastinya jadi gak biasa. 
Seperti contoh saat makan, agak janggal bagi saya menyendok nasi dan menyuapkan ke mulut menggunakan tangan kiri. Begitu pula saat menulis ini, hehehe. 

Pada dasarnya mungkin hanya karena kebiasaan saja . Di luar sana, juga banyak orang-orang yang makan atau aktifitas lain dengan tangan kiri. Bahkan banyak penderita disabilitas hanya bisa menggunakan maksimal apa yang mereka punyai. 
Setiap melihat hal demikian, rasa terenyuh hati. Mereka dengan segala kekurangan masih terus sem…

#153# PHOBIA JARUM SUNTIK

Yang namanya phobia terhadap sesuatu, ternyata kelak bisa menjadi sesuatu yang sebaliknya. Ini hanya sekedar pengalaman yang benar-benar saya alami dan rasakan, bahkan sampai sekarang pun saya tak juga faham kenapa bisa terjadi (hahaha).
Saya adalah seseorang yang sangat takut dengan jarum suntik. Bahkan sejak dari kecil (tentunya saat saya telah bisa mengingat segala hal yang terjadi).
Jadi saat itu masa saya di Sekolah Dasar, mungkin di kelas 2, kemudian ada agenda suntik cacar buat para murid. Pada awalnya saya tak merasa ketakutan, tapi ketika melihat salah seorang kawan begitu histeris dan menangis bahkan sampai lari dikejar guru, entah kenapa seketika saya pun menjadi takut. Tetapi akhirnya saya jalani juga, dan hasilnya huhu, saat disuntik saya tak menangis, setelahnya baru, hahhha.
Sejak kejadian itu, segala hal yang berhubungan dengan dunia kedokteran saya jauhi (terkecuali cita-cita menjadi dokter) karena saya trauma. Namun alhamdulillahnya saya juga bukan anak kecil yang k…